Isak Tangis Keluarga Salah Satu Pesantren Tertua di Tasikmalaya

 Isak Tangis Keluarga Salah Satu Pesantren Tertua di Tasikmalaya

tasikiwari.com, ASTAKONA,Sehebat apapun seseorang, terlepas apa pangkat dan jabatannya, tetap saja membatin ketika harus mengenang orang tua yang sudah tiada. Begitupun dengan keluarga dari salah satu pesantren tertua di Tasikmalaya, yang siang tadi, (Minggu, 10/04),  menggelar silaturahmi sekaligus Tarhib Ramadhan. Benak dan hati mereka seolah ditarik ke masa silam, puluhan tahun lalu, ketika mereka masih kecil, hidup bahagia di lingkungan pesantren bersama orang tuanya.

“Ya, yang paling kami ingat, bagaimana perjuangan berat Aki dan Abah saat membangun pesantren ini,” terang Otong Koswara, salah seorang cucu dari pendiri pesantren. Aki adalah kakeknya, orang yang pertama kali mendirikan pesantren. Dan Abah, tak lain adalah ayahnya, sosok yang begitu istimewa di mata Otong dan saudara-saudara kandungnya.

Pesantren ini termasuk salah satu pesantren tertua di Tasikmalaya. Dirintis sebelum masa kemerdekaan Indonesia, tepatnya tahun 1933, oleh KH. Ahmad Kusyaeri. Setelah beliau wafat, estafet perjuangan pesantren dilanjutkan oleh putranya, KH. Abdul Rofiq, ayah Otong Koswara.

Namanya Pesantren Tarbiyyatul Ummah, berlokasi di Kampung Sindangwangi, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya.

Dan siang tadi, sekitar 100 orang keluarga almarhum KH. Abdul Rofiq berkumpul. Agendanya adalah silaturahmi keluarga pesantren, sekaligus menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan.

“Yang membuat kami tak bisa menahan tangis karena kami ingat perjuangan orang tua kami. Sementara kami –sedikit terbata– sampai saat ini masih belum bisa meneruskan perjuangan orang tua kami,” terang Otong Koswara.

“Yang paling membuat kami bersedih, sepeninggal Abah, pesantren nyaris bubar, tidak terawat. Semua anak-anaknya sibuk urusan masing-masing,” tambah Otong, matanya kembali membasah.

“Abah wafat tahun 1982, sejak itu… pesantren sepi. Santri banyak yang pulang karena tidak ada yang merawat pesantren.”

Padahal, masih menurut Otong, anak-anak Abah ketika itu punya sumberdaya yang seharusnya bisa membuat pesantren lebih berkembang.

“Hampir 38 tahun pesantren mati suri.. Beruntung masih ada dua orang, kakak ipar saya, yang masih mau bertahan di pesantren. Tapi hanya mereka berdua. Padahal kami, anak-anak Abah, punya kesempatan untuk mengembangkan peninggalan Abah,” jelas Otong, seraya mengusap air matanya. Masa vakum itu berlangsung sejak Abah wafat pada 1982, dan pesantren baru mulai aktif lagi tahun  2020 lalu.

Abah itu, berjuang keras agar pesantren bisa berjalan. Semua gaji Abah yamg semasa hidup bekerja hanya sebagai guru di lingkungan Departemen Agama, Abah hibahkan untuk pesantren.

“Kalau ada uang, prioritas Abah itu pesantren. Bahkan almarhum Ema satu saat ingin beli kain samping yang agak mahal, tidak diberi oleh Abah demi pesantren,” tambah Otong.

Hari ini, panji Tarbiyyatul Ummah mulai berkibar kembali. Lebih dari 400 santri saat ini menimba ilmu di Tarbiyyatul Ummah. Semua santri diberi kesempatan belajar, tanpa harus mengeluarkan sepeserpun uang untuk biaya pendidikan.

“Ada sekitar 50 orang guru, semua diberi honor bulanan dari yayasan, tidak sepeserpun dari santri. Sekarang yang berjalan RA, TK, Diniyah dan SMP. Tahun ini, insha Alloh mulai buka jenjang SMA. Kami sekeluarga berusaha keras untuk memberikan pendidikan yang gratis tapi berkualitas, seperti harapan Abah dulu.”

Menurut Otong, anak Abah itu ada delapan bersaudara. Sekarang tinggal lima, yang tiga sudah wafat. Sumber utama biaya pesantren saat ini berasal dari delapan keluarga, termasuk anak, menantu, sepupu, bahkan cucu. Bahu-membahu demi menjaga keberlangsungan pesantren.

“Masih ada lima orang bersaudara yang punya kesempatan meneruskan jejak Abah. Meski di antara anak Abah, tidak ada yang sehebat Abah, tapi kami bertekad, setidaknya menjaga pesantren untuk tetap ada. Semoga di sisa usia ini, kami bisa membayar kekhilafan kami sebelumnya. Biar kami tidak terlalu malu saat bertemu Abah kelak di akhirat,” pungkas Otong Koswara. (Ayub/dR)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *