Prostitusi Online di Kota Santri, Mereka Pakai Hijab!

 Prostitusi Online di Kota Santri, Mereka Pakai Hijab!

tasikiwari.com, BERITA TASIKMALAYA, Perkembangan teknologi memang tak selalu berwajah baik, ada juga sisi buruknya. Sebut saja misalnya bagi dunia malam. Prostitusi yang didukung teknologi, bahkan bisa beroperasi leluasa meski di bulan suci. Ini lantaran aksi dan transaksinya berlangsung di dunia maya, pada saluran-saluran  yang sangat private. Lain halnya dengan dulu, ketika teknologi belum diadopsi dunia prostitusi. Tempat-tempat hiburan malam dengan mudah dapat dipantau bahkan distop, setidaknya sementara, selama bulan suci.

“Ya, masih lah, mau dapat bekal lebaran dari mana kalau gak kerja,” terang Bunga, sebut saja demikian, perempuan berparas manis yang sudah hampir delapan tahun bekerja di dunia malam.

“Kalau dulu susah, bulan puasa pasti harus libur. Sekarang bisa tetap kerja, ya diam-diam, kan ada hape,” tambah Bunga.

Boleh jadi, bukan hanya Bunga yang masih beroperasi di bulan suci.  Pengamat sosial Kota Tasikmalaya, Nanang Nurjamil bahkan  mensinyalir ada lebih dari 100 akun prostitusi yang beroperasi di wilayah Tasikmalaya.

“Ada 111 akun prostitusi online di Tasikmalaya. Mereka memanfaatkan beberapa platform media sosial, misal X, michat, atau instagram. Semua nomor dan namanya lengkap ada di saya,” terang Nanang.

Praktik prostitusi dengan mengadopsi teknologi tersebut bahkan sudah berjalan sejak lima tahun lalu. Secara geografis area mereka di Tasikmalaya. Bukan sekedar di hotel, tren dua tahun terakhir ini justru di kost-kostan.

“Dari sisi profit lebih menguntungkan kalau di kost-an,” tambah pria yang lebih akrab dipanggil Kang Jamil.

Yang lebih miris, masih menurut Kang Jamil, tak sedikit di antara penjaja seks via online di Tasikmalaya itu mengenakan hijab. Dan beberapa di antaranya masih terkategori di bawah umur.

“Sampai-sampai muncul istilah baru: Bo Hijaber,” jelas Kang Jamil, miris.

Tarifnya variatif, mulai dari beberapa ratus ribu sampai jutaan rupiah.

“Saya pernah ikut operasi razia bersama Satpol PP Kota Tasikmalaya. Tarifnya mulai Rp. 300 ribu, sampai Rp. 1,5 juta!”

Saat ditemui di kediamannya di bilangan Jalan Cieunteung, Kota Tasikmalaya, Kamis (14/03), Kang Jamil menyatakan kekecewaanya pada pemerintah kota.

“Pemerintah seolah menutup mata. Audiensi sudah dilakukan berulang kali, data-data otentik pernah dipaparkan di depan DPRD dan dinas-dinas terkait. Sampai-sampai para ulama pernah membuat petisi, meminta pemerintah untuk mengambil langkah. Tapi tidak pernah digubris!” pungkas Kang Jamil. (Yuni)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *