Sambutan Pemimpin Umum dalam Acara Launching Tasikiwari.com

 Sambutan Pemimpin Umum dalam Acara Launching Tasikiwari.com

tasikiwari.com, Editorial. Menurut saya pribadi, dalam hal ini mungkin pandangan kita bisa berbeda, pers hari ini setidaknya memiliki tiga wajah.

Yang pertama wajah idealis, ini adalah wajah bagi dunia pers yang masih berpegang teguh, untuk menjalankan fungsi-fungsi mulia dari media, antara lain fungsi informatif, fungsi edukatif, atau fungsi social control. Kaki para pegiat pers yang ada di sisi ini, masih berpijak kuat di atas landasan etika dan norma, dan tentu saja tata aturan yang berlaku. Orientasi dari wajah yang satu ini adalah realitas yang objektif, dan kebenaran harus disuarakan.

Lalu yang kedua adalah wajah industrialis. Wajah pers yang satu ini boleh jadi terkesan lebih glamour, lebih bergincu, dan menggoda, tapi masih berusaha untuk profesional, tidak nekat berlari ke tepian jalan, dan menjajakan harga diri mereka. Kedua kaki mereka boleh jadi berada di dua tempat, satu berada di wilayah etika dan norma, satu lagi di wilayah untung-rugi, wilayah transaksi. Bagi wajah yang kedua ini, pers tak bisa hanya sekedar diisi oleh semangat juang, tapi juga harus diperkaya, diperkuat dengan beragam aktivitas dagang. Media dengan sagala kekuatannya, mengejawantah menjadi sebuah produk yang ditawarkan kesana kemari.

Yang ketiga, ini wajah paling parah, yakni wajah pragmatis. Semua aset yang melekat pada pers, di wajah yang ketiga ini, dilacurkan secara liar dan brutal. Apapun yang mereka miliki, termasuk harga diri tentunya, mereka jajakan dengan harga yang lebih rendah daripada harga obral. Tidak pernah ada tunas idealisme tumbuh di sisi ini, bahkan mereka terjauh dari apa yang disebut profesionalisme jurnalistik. Kaki mereka tak pernah berhenti di satu titik, selalu berpindah kesana kemari, tergantung di titik mana mereka bisa mendapatkan keuntungan.

Sekali lagi, ini hanya pandangan saya pribadi, dan tentu saja sangat mungkin berbeda dengan Bapak, Ibu, sekalian.

Tiga wajah pers yang tadi saya paparkan, sempat membuat saya ragu dan bimbang, ketika beberapa anak muda Tasikmalaya bersilaturahmi, dan mengajak saya untuk bergabung di Tasikiwari.com. Di usia saya yang tentu kurang pantas kalau harus disebut masih muda ini, tentu saya sangat tidak ingin memiliki aktivitas baru, yang justru mendegradasi kualitas hidup saya secara pribadi. Namun setelah beberapa kali diskusi dengan beberapa inisiator Tasikiwari.com, akhirnya bismillah, saya menetapkan hati, menyatakan siap untuk bergabung bersama mereka.

Bapak Ibu hadirin sekalian yang saya hormati, alasan kesiapan saya bergabung di Tasikiwari.com hanya satu, yakni karena semangat dan track record para inisiatornya memiliki wajah yang sama, yaitu wajah idealis, wajah yang pertama dalam paparan saya di awal tadi. Dan rentang sejarah peradaban manusia sudah membuktikan, bahwa sebetulnya, di awal kelahirannya, atau bisa dikatakan wajah asli pers itu, adalah wajah idealis.

Dalam sejarah perjuangan bangsa yang kita cintai ini, pers ibarat kepingan sejarah yang ditulis dengan tinta emas. Kita bahkan menyebutnya dengan istilah pers perjuangan. Bagaimaan Dokter Wahidin Sudirohusodo misalnya, secara aktif menanamkan benih-benih nasionalisme melalui majalah Retno Dumilah. Tulisan-tulisan beliau lah yang kemudian, membuat ratusan suku bangsa di wilayah nusantara ini menyadari sebagai satu kebangsaan. Atau Van Deventer, yang reportasenya berhasil menggugah hati dan benak Ratu Belanda dan pandangan bangsa Eropa tentang Indonesia, sehingga melahirkan kebijakan politik etis, yang setidaknya menurut runtutan sejarah kemudian menjadi jembatan bagi lahirnya Sekolah Kedokteran STOVIA, sebuah lembaga pendidikan tinggi yang melahirkan dokter-dokter perintis perjuangan Indonesia. Lalu sebut saja  Soekarno, Hatta, Yamin, Doktor Soepomo, Natsir, Otto Iskandar Dinata, Agus Salim, bahkan orang sekeras Tan Malaka, faktanya mereka tidak terlepas dari aktivitas pers, tapi pers berwajah idealis, atau pers perjuangan.

Namun demikian, Saya juga harus jujur, saya tidak bisa memastikan, apakah semangat hebat Tasikiwari.com ini akan mampu bertahan, tumbuh dan membesar, atau justru layu sebelum berkembang. Saya tidak bisa memastikan hal ini, karena peran menjaga dan membesarkan ini harus ada di tangan banyak pihak. Tasikiwari.com bisa tumbuh, besar, dan tetap menjaga semangat idealisme, itu sangat bergantung pada setidaknya para hadirin yang ada di ruangan ini.

Satu hal sudah saya pastikan kepada para inisiator Tasikiwari.com adalah, saya akan tetap bersama mereka, ketika ruh perjuangan, ruh idealisme, ruh kebaikan, masih ada di dalam Tasikiwari.com. Dan mereka juga berjanji akan bertahan sekuat yang mereka mampu. Selebihnya, saya kira ada di tangan hadirin sekalian, sisa perannya ada di tangan Tasikmalaya, terutama para pemangku kebijakan. Akan disambut baik dan diberi ruang yang kondusif untuk tumbuh kembang media yang positif?, Atau sebaliknya, akan dibuat layu sebelum berkembang.

Terakhir, ada sebuah ilustrasi dari seorang sahabat yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan berbahagia ini. Menurut KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari kata wartawan adalah mereka yang pekerjaannya mencari dan menyiarkan berita. Dalam bahasa arab, kata yang artinya berita ini adalah naba. Dan menurut berbagai referensi yang saya baca, kata naba dalam bahasa arab yang artinya berita itu, menjadi salah satu akar kata dari kata nabi, karena itu seorang nabi bisa dimaknai juga sebagai pembawa berita, pembawa kabar. Maksudnya pembawa kabar dari Sang Pencipta tentunya.

Jadi secara sederhana bisa kita fahami, ada kesamaan makna antara kata wartawan dan nabi, walaupun tidak dalam makna yang kongruen. Tapi dua-duanya adalah pembawa berita. Artinya apa, jadi wartawan itu harus ingat nabi. Bukan harus jadi nabi, tapi setidaknya ingat, bahwa pekerjaannya ada kemiripan dengan nabi, bahwa mencari dan menyebarkan berita adalah pekerjaan mulia, Ini harus jadi landasan berfikir bagi siapapun yang ingin jadi wartawan. Wartawan itu mulia, harus menjaga sifat-sifat nabi seperti sidiq, amanah, fathonah dan tabligh. Dan yang paling penting dari tauladan para nabi adalah, mereka siap menghadapi resiko apapun, mereka siap lapar, siap miskin, siap dikucilkan, siap diperangi, bahkan siap berkorban nyawa sekalipun, DARIPADA HARUS BERSEKUTU DENGAN KEBATILAN!. Harusnya, setiap wartawan berpegang pada konsep ini. Dan khususnya di Tasikiwari.com , insha Alloh, sekuat yang saya bisa, saya akan jaga sama-sama kemulian profesi wartawan.

Wassalaaam
(H Otong Koswara, M.Si.)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *