Karena Ramadhan Kali Ini Kita Bersama

 Karena Ramadhan Kali Ini Kita Bersama

Abu Ayyub

Tasikiwari.com, INSPIRATIF. Ketika tadi adzan maghrib berkumandang, Kamis (23 April 2020), tiba-tiba saja telinga saya meruncing dengan sendirinya. Suara muadzin tadi, rasanya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Padahal muadzinnya orang yang sama. Saya fikir, mungkin karena malam ini adalah malam pertama ramadhan, bulan yang senantiasa menghadirkan nuansa yang berbeda. Saya pun tersenyum, seraya menggumamkan hamdalah, Alhamdulillaah, Alloh masih menyampaikan usia saya dan orang-orang yang saya cintai pada ramadhan.

Tapi sedetik kemudian tiba-tiba ada sedikit rasa ngilu dalam hati.Saya berfikir lagi, mungkin kemerduan muadzin tadi bisa saja bukan semata-mata karena malam ini malam ramadhan, tapi karena telinga saya yang memang sudah lama tidak pekak pada suara adzan. Telinga saya sudah terlalu menganggap biasa pada seruan tersebut. Tak ada bedanya dengan mendengar lagu. Bahkan seringkali kalah prioritas oleh suara nada dering Hp saya. Sehari-hari boleh jadi terdengar, tapi tidak dinikmati, apalagi sampai diterima oleh hati., Astaghfirullohaladzim.

Malam ini kita sama-sama memasuki gerbang waktu yang sangat istimewa, yakni bulan ramadhan. Kita tahu, ada seabreg dalil yang menegaskan bulan ramadhan adalah bulan paling istimewa. Dan karenanya, banyak pula label mulia yang disematkan pada ramadhan. Sebut saja misalnya bulan penuh rahmat, bulan penuh berkah, atau bulan penuh ampunan,. atau bulan penuh kemuliaan, bulan penolong, bulan yang bisa membebaskan kita dari api neraka, bulan yang kebaikannya sebanding dengan seribu bulan, bulan yang ketika kita berdoa pasti terkabul, dan lain-lain. Kita sudah sama-sama faham dengan semua itu, karena kita memang sudah lama memahaminya. Tapi mari kita fikirkan, berapa kali kita melewati ramadhan? Sudah berapa kali Alloh SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk memasuki gerbang waktu istimewa tersebut? Dan apakah benar bulan tersebut memberikan semua kebaikan itu pada kita?

Berulang kali kita melewati bulan penuh berkah itu, tapi rasanya hidup ini sering terjauh dari keberkahan. Berulang kali kita melewati bulan penuh rahmat itu, tapi sepanjang tahun rasanya kita lebih sering berhadapan dengan kesulitan hidup. Berulang kali kita lewati bulan penolong itu, tapi rasanya hidup kita tak banyak berubah, tetap saja sering susah. Berulang kali kita melewati bulan penuh ampunan itu, tapi lagi-lagi kita kembali berlumur afla dan dosa. Kenapa? Kenapa ramadhan yang mulia itu, kenapa bulan yang katanya sangat istimewa itu, kenapa bulan yang ditaburi janji Alloh dan Rasul-Nya itu, sepertinya tak mampu merubah kualitas hidup kita? Apakah Alloh dan Rasul-Nya berdusta? Atau ada yang salah dengan ramadhan kita? Wallohu’alam.

Tulisan singkat ini tidak bermaksud mengevaluasi amalan siapapun pada ramadhan sebelumnya. Saya menulis ini, setidaknya untuk keluarga saya, dan sahabat=sahabat yang saya cintai. Saya ingin mengajak mereka untuk bersama-sama, untuk merapatkan barisan sejak awal ramadhan.

Jika pada ramadhan sebelumnya kita cenderung sendrian, dan faktanya kemuliaan ramadhan tidak memberikan perubahan besar pada kita, rasanya tak ada salahnya jika kita coba melewati ramadhan tahun ini bersama-sama. Kita tilawah bersama-sama, klita khatamkan Alquran setiap hari bersama-sama, kita ta’lim bersama-sama, kita intens untuk saling meotivasi dan menjaga kualitas sekaligus kuantitas amaliah ramadhan kita.

Pokoknya, kita azamkan, kita niatkan, kita tekadkan dalam hati kita bersama sejak awal ramadhan, bahwa Ramadhan tahun ini harus lebih indah, harus lebih berkah, harus lebih berdampak pada setiap kita. Kenapa? Karena ramadhan kali ini kita bersama!