Seribu Tanya untuk Bupati Tasikmalaya

 Seribu Tanya untuk Bupati Tasikmalaya

Diar Suryana*

Tasikiwari.com, OPINI. Sepekan terakhir ini, saya memberanikan diri keluar kampung. Tanpa bermaksud melawan himbauan pemerintah untuk tetap di rumah, semata-mata karena rasa ingin tahu yang sudah coba saya tahan berhari-hari. Apa yang ingin saya ketahui? Saya ingin tahu, apakah warga yang lain juga sama dengan saya untuk bertahan di rumah? Karna jujur saja, selama bertahan di rumah, sering terlintas dalam fikiran saya, jangan-jangan hanya saya yang manut, atau mungkin paranoid gara-gara wabah virus berjuluk Corona.

Keinginan untuk keluar rumah juga terdorong oleh hal lain, sebut saja misalnya akses informasi tentang perkembangan terkini Corona di Kabupaten Tasikmalaya. Entah karena saya kurang gaul, atau memang data Kabupaten Tasikmalaya tidak mudah diakses seperti yang lain, misalnya saja data Kota Tasikmalaya. Hampir rutin setiap hari, update data Corona di Kota Tasikmalaya sampai ke tangan saya, yang notabene tinggal di daerah pegunungan. Syangnya, tidak demikian dengan data dari Kabupaten Tasikmalaya.

Saya pun memberanikan diri keluar. Ternyata, baru satu dua kilometer keluar dari kampung, saya sudah dipertontonkan situasi di luar dugaan saya. Aktifitas sosial ternyata normal-normal saja, jalanan faktanya tidak sepi, pedagang kaki lima masih beroperasi, para pegawai negeri juga masih terlihat bekerja sepertia situasi normal. Mungkin yang sedikit membedakan, saya tidak melihat anak-anak berseragam sekolah, meski saya melihat banyak anak-anak bermain seperti biasa tanpa seragam sekolah.

Satu, dua, tiga pertanyaan susul menyusul di benak saya. Kok begini? Saya kira jalanan sepi, Singaparna ternyata ramai, tak jauh beda dengan hari-hari sebelumnya. Para pedagang kaki lima di depan komplek Gedung Bupati juga mangkal seperti biasa, tanpa masker atau hand sanitizer. Apakah Bupati Tasikmalaya tidak melihat realitas ini? Rasanya mustahil. Setidaknya karena bupati punya belasan ribu pasang mata dan telinga bawahannya di Kabupaten Tasikmalaya. Atau mungkin karena situasinya belum menuntut untuk ketat? Apa mungkin karena belum ada data positif Corona di Kabupaten Tasikmalaya?

Seabreg pertanyaan itu hanya berputar-putar di kepala saya, tanpa sempat bisa saya tanyakan. Jikapun benar karena belum ada kasus positf Corona di Kabupaten Tasikmalaya, apakah harus menunggu yang positif baru kemudian diperketat? Bukankah potensi positif itu sangat besar? Setidaknya jika dikaitkan dengan jumlah pemudik yang mencapai angka puluhan ribu orang? Mereka datang dari kota-kota zona merah, apakah mustahil mereka semua tidak terpapar Corona? Atau, Kabupaten Tasikmalaya yang tidak punya kuasa untuk mengecek potensi tersebut?

Lagi-lagi, deretan pertanyaan itu hanya mampu saya pendam. Lalu saya berfikir lagi, oh mungkin karena jika diperketat, ada resiko besar. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya harus memenuhi kebutuhan pokok warganya. Jika pun begitu, kenapa susah? Saya pernah baca di media online, katanya Kabupaten Tasikmalaya punya Rp. 100 milyar untuk urusan Corona. Silahkan baca di sini, bupati yang langsung bicara. Tidakkah cukup uang sebesar itu untuk membuat warganya tetap di rumah? Belakangan bahkan ada kabar dana untuk Corona di Kabupaten Tasikmalaya bisa sampai dua kali liapt dari yang pernah disampaikan Bupati.

Saya mencoba berbincang dengan warga lain. Ada belasan orang warga yang saya ajak ngobrol. Ternyata, mereka juga memendam segudang tanya. Mirip dengan saya. Banyak yang ingin diketahui warga, tapi bingung harus bertanya pada siapa, tak tahu harus mengakses data valid darimana.

Kemungkinan besar sekarang masih tahap pendataan. Mendata apa? warga miskin?Okelah kalau begitu. Tapi masih banyak pertanyaan. Apakah ratusan milyar itu nanti akan diproyeksikan semua untuk warga miskin yang tidak disentuh oleh program pusat dan provinsi? Atau ada juga bentuk kegiatan lain? Jika ada, siapa perencananya? Sudah sampai mana perencanaannya? Saya sebagai warga sangat ingin tahu hal tersebut, mengingat urusan wabah ini mengancam langsung semua jiwa yang ada di Kabupaten Tasikmalaya.

Usut punya usut, ternyata bukan hanya saya yang kebingungan. Sekelas wakil rakyat di provinsi saja ternyata mengeluh. Saya baca di Kompas, Yod Mintaraga mengeluhkan hal yang sama seperti saya. Yod bahkan berani menyatakan Kabupaten Tasikmalaya adalah kabupaten yang paling minim memberikan informasi. Sumbernya silahkan baca di sini. Keresahan saya dan Pak Yod juga ternyata sempat dirasakan oleh Kepala Desa dan warga Cibatuireng misalnya. Sumbernya silahkan baca di sini. Azis Mahfud juga begitu, salah seorang bakal calon Bupati Tasikmalaya ini juga mengkritisi hal serupa. Pernyataannya bisa dibaca di sini. Dan, dewan saja sempat merasa heran dengan kinerja lamban Kabupaten Tasikmalaya, silahkan baca di sini.

Aneh memang, daerah-daerah lain di berbagai tingkatan begitu aktif dan informatif, tapi Kabupaten Tasikmalaya sebaliknya. Andai semua warga bisa menulis dan memiliki akses ke media massa, tak bisa saya bayangkan berapa banyak tulisan yang bernada sama dengan tulisan yang saya buat sekarang.

Corona itu harus dihadapi bersama-sama, dan untuk bisa bersama-sama, seharusnya semua pihak bisa saling terbuka, apalagi pemerintah daerah. Mudah-mudahan Alloh SWT selalu menjaga Kabupaten Tasikmalaya khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Karena pada akhirnya, saat warga tidak faham dengan apa yang sedang dilakukan pemerintah daerah, hanya doa yang bisa dilakukan oleh warga seperti saya.

(*) penulis adalah redaktur tasikiwari.com, tinggal di wilayah Kecamatan Cigalontang.

Helmi Razu