Untuk Tenaga Medis Tasikmalaya

 Untuk Tenaga Medis Tasikmalaya

Tulisan ini saya persembahkan khususnya untuk para perintis bangsa Indonesia. Lho? Memangnya mereka masih hidup? Bangsa besar ini dirintis 120 tahun silam, tentunya sekarang para perintisnya sudah tidak ada. Tapi para penerusnya masih banyak, bahkan jauh lebih banyak.

Di tengah arogansi imperialisme Eropa ketika itu, sekitar tahun 1900, ada sekelompok pemuda yang berani menyemai benih-benih nasionalisme. Mereka lah yang pertama kali berani bicara tentang bangsa, memulai untuk tidak berfikir individualis, berdiskusi sembunyi-sembunyi tentang nasib pribumi, mencurahkan semua kemampuan mereka demi sesama anak bangsa, mereka juga yang mulai berani berstrategi menghadapi penjajahan yang kejam, mereka para pemuda perintis perjuangan yang jengah karena bangsanya dijajah. Sejarah mencatat dengan tinta emas, bagaimana sekelompok pemuda ini menanam dan merawat rasa nasionalisme di setiap dada putra bangsa yang kelak dikenal sebagai Indonesia.

Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, Wahidin Sudirohusodo, adalah sebagian nama para pemuda itu.   Indonesia begitu mengapresiasi kiprah mereka. Nama-nama tersebut diperkenalkan kepada generasi penerus sejak di bangku Sekolah Dasar. Ya, mereka adalah pendiri dan pengurus Boedi Oetomo, organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia. Siapakah sebenarnya para pemuda tersebut? Mereka adalah para tenaga kesehatan, alumni program Kursus Kedokteran yang dibuka oleh penjajah gara-gara wilayah nusantara diterjang wabah cacar di tahun 1800-an. Mereka adalah alumni Sekolah Dokter Djawa dan STOVIA.

Mereka pemuda yang berkecukupan secara materi, makanya bisa kuliah kedokteran karena memang punya uang. Tapi mereka memiliki rasa kebangsaan yang tinggi. Hidup nyaman sendiri bukan impian mereka. Bahkan kenyamanan itu mereka pertaruhkan demi masa depan bangsa. Sebagian mereka ada yang kemudian ditangkap oleh penjajah, sebagian bahkan diasingkan ke pulau terpencil. Demi Indonesia, mereka berani bertaruh segalanya.

Fragmen sejarah di atas tiba-tiba saja terlintas di benak saya sesaat setelah membaca berita. Anies Baswedan di berbagai media berujar, “Semua tenaga kesehatan bekerja non-stop. Sebagian dari mereka ada yang tertular Corona.” Ada rasa miris sekaligus haru yang saya rasakan, membayangkan bagaimana para tenaga kesehatan itu berperang demi rakyat Indonesia. Terlebih, ketika Juru Bicara Pemerintah khusus Corona, Achmad Yurianto menegaskan, sudah ada tenaga kesehatan yang meninggal jadi korban Corona. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Alloh akan memberikan tempat terindah untuk mereka.

Saya yakin, mereka bisa memilih cari aman dengan berbagai alasan mudah. Saya juga yakin, kalau niat cari selamat, gak sulit-sulit amat. Saya yakinbetul, mereka faham benar dengan resiko kematian yang mereka hadapi. Saya yakin betul, keluarga mereka tidak tenang di rumah. Tapi mereka memilih berangkat dari rumah, lembur di rumah sakit atau puskesmas, mempertaruhkan ketenangan keluarga bahkan nyawanya, demi bakti mereka untuk rakyat Indonesia.

Alloh akan mencatat amal mereka, rakyat Indonesia tidak akan melupakan jasa mereka. Bangsa besar ini lahir dari kiprah mereka. Dan mereka tidak akan membiarkan ancaman apapun menghancurkan Indonesia. Mereka tidak akan menyerah, saya sangat yakin itu. Selamat berjuang saudaraku, jutaan bait doa rakyat Indonesia akan terus menjagamu.

Semoga Alloh SWT senantiasa menjaga saudara kita, tenaga kesehatan yang sedang bertugas untuk rakyat  Indonesia. Aamiin.